Paradigma Kecerdasan Majemuk: Menggali Sifat, Bakat, Dan Kemampuan Anak Lewat Paradigma Multiple Intelligences.

August 14, 2010 Leave a comment

Untuk apa sesungguhnya upaya menggali dan mengembangkan sifat, bakat, dan kemampuan anak? Itulah pertanyaan yang harus diajukan sebelum yang lain-lain. Memelihara perspektif mengenai tujuan pengembangan sifat, bakat, dan kemampuan anak ini kiranya amat penting agar kita tidak melakukannya demi sesuatu yang salah. Saya kira amat mudah diterima oleh semua orang tua bahwa semua kerepotan ini pada puncaknya adalah untuk mengantar anak menuju suatu kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Bukan demi gengsi, popularitas, dan kekayaan. Yang disebut pertama adalah tujuan, sedang yang terakhir tak lain adalah sarana. Karena itu, tepat sekali menekankan pentingnya orang tua selalu memelihara kesejahteraan emosi anak dalam upayanya menggali dan mengembangkan sifat, bakat, dan kemampuan anak.

Meski banyak teori tentang bakat, dan anak berbakat, saya hendak memakai pendekatan kecerdasan ganda (multiple intelligences) yang dikembangkan oleh Howard Gardner. Pendekatan – bahkan, paradigma – baru ini, menurut saya, bukan saja mengurai dan mencakup aspek sifat, bakat, dan kemampuan sekaligus, melainkan juga mengarahkan agar pengembangan aspek-aspek ini terus memelihara perspektif tentang tujuan akhir dari semua upaya ini : yakni, kesejahteraan dan kebahagiaan anak. Mari kita lihat.

Seperti sudah banyak diketahui, Gardner menggunakan kata “kecerdasan: (intelligence) sebagai “pengganti” kata bakat. Tapi, pada saat yang sama, pendekatan ini juga membahas mengenai bagaimana caranya bakat ini perlu dan dapat dikembangkan menjadi kemampuan konkret. Sekaligus, di antara – sejauh ini – sembilan kecerdasan yang diidentifikasikan oleh psikolog ini, terdapat sedikitnya 3 (tiga) kecerdasan yang bisa disebut sebagai sifat-sifat yang dapat menjadikan kecerdasan-kecerdasan (baca : bakat-bakat) yang dimiliki seorang anak benar-benar membawanya kepada kesuksesan dan, pada gilirannya, kebahagiaan hidup.

Gardner menyebutkan ada – sedikitnya – 9 (sembilan kecerdasan) yang mungkin dimiliki seseorang :
Kecerdasan Pertama : logis-matematis
Kecerdasan Kedua : linguistic-verbal (kebahasaan)
Kecerdasan Ketiga : spasial-visual
Kecerdasan Keempat : musikal
Kecerdasan Kelima : kinestetik-ragawi
Kecerdasan Keenam : naturalis
Kecerdasan Ketujuh : intrapersonal
Kecerdasan Kedelapan : interpersonal
Kecerdasan Kesembilan : eksistensial

Dua kecerdasan pertama biasanya dianggap sebagai satu-satunya faktor serba mencakup (overall single factor) ukuran kecerdasan konvensional yang biasa disebut IQ (Intelligence Quotient) – suatu pemahaman yang diruntuhkan oleh teori kecerdasan ganda ini. Nah, selain menunjukkan bahwa sesungguhnya kecerdasan bisa mengambil bentuk kecerdasan-kecerdasan lainnya – spasial, musikal, kinestetik, dan naturalis – Gardner menyebut jenis-jenis kecerdasan yang belakangan popular disebut sebagai emotional intelligence (EQ) – dalam teori Gardner ditunjukkan dengan kecerdasan intrapersonal dan interpersonal serta spiritual intelligence (SQ) yang di sini disebut sebagai kecerdan eksistensial. Ketiga kecerdasan yang disebut terakhir ini kiranya harus dipandang sebagai sifat-sifat yang harus dikembangkan pada diri setiap anak apa pun bakat dan kemampuannya demi memastikan bahwa pada puncaknya sang anak akan dapat menjadikan bakat dan kemampuannya itu untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan hidup.

Jika hendak diringkaskan, keenam kecerdasan yang disebut pertama oleh Gardner – logis-matematis, linguistik (kebahasaan), musikal, spasial-visual, kinestetik-ragawi, dan naturalistik – dapat dikelompokkan ke dalam kategori keterampilan yang dibutuhkan sebagai bekal bagi keberhasilan dalam mendapatkan tempat di percaturan peran dan dan dunia kerja. Kecerdasan Keenam dan Ketujuh merupakan sifat-sifat yang penting bagi bukan hanya kesejahteraan emosional, melainkan juga jaminan bagi kemampuan memanfaatkan keterampilan-keterampilan tersebut untuk mengantar kepada kesuksesan karier. Sedang Kecerdasan Kedelapan mutlak dibutuhkan sebagai jaminan bahwa semua kesuksesan hidup yang bisa dicapai, sebaliknya dari “menggerogoti” kebahagiaan yang seharusnya lahir dari kesuksesan-kesuksesan itu, dapat benar-benar mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup itu sendiri.

Nah, seseorang dapat memiliki bakat dan memang memang perlu memiliki satu atau lebih kecerdasan yang masuk ke dalam kategori pertama itu. Namun, ia tak bisa tidak harus memiliki sifat-sifat yang masuk ke dalam kecerdasan-kecerdasan dalam kategori kedua dan ketiga tersebut di atas. Dalam bahasa yang popular, kecerdasan-kecerdasan kategori kedua dan ketiga itu kiranya bisa disebut sebagai kepribadian (personality), budi pekerti, dan kesadaran keagamaan. Mudah-mudahan tidak berlebihan bahwa, meski pendidikan menyangkut proses penanaman keterampilan-keterampilan atau – dalam bahasa Gardner – kecerdasan-kecerdasan praktis, pada akhirnya pendidikan bertujuan penanaman keterampilan-keterampilan hidup (life skills) yang akan membawa seseorang kepada kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Jika kita pinjam peristilahan yang diperkenalkan oleh UNESCO, maka kita dapati bahwa, pada akhirnya, pendidikan bertujuan penanaman sikap untuk mau belajar terus-menerus seumur hidup yang mencakup :
· Belajar cara untuk tahu (learn how to know)
· Belajar cara untuk hidup (learn how to be)
· Belajar cara melakukan (learn how to do)
· Belajar untuk hidup bersama orang lain (learn to live together)

Mungkin karena konstrain sekularistik, UNESCO tidak melengkapi semuanya itu dengan aspek “Belajar untuk Hidup Bersama Tuhan” meski sesungguhnya kebutuhan akan Tuhan dan keberagamaan makin diakui sebagai kebutuhan dasar manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup (Baca survey Majalah TIME tentang kembalinya agama dan Tuhan dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat, atau buku Varieties of Religious Experience karya William James dari kelompok buku klasik atau SQ yang lebih mutaakhir, atau pun tulisan-tulisan semacam “Desecularisation of the World” karya sosiolog terkemuka Peter L. Berger, untuk sekadar menyebut beberapa contoh saja.

Kembali kepada persoalan cara untuk mengembangkan sifat-sifat , bakat dan kemampuan anak. Perlu untuk ditegaskan di sini bahwa : Pertama, pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan – atau bakat — sendiri. Kecerdasan itu bisa satu bisa lebih. Kedua, bakat bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan anak di bidang tertentu. Sudah banyak diketahui bahwa bakat tak banyak gunanya jika tak digali dan dikembangkan dengan dorongan minat yang memadai. Tapi, sebaliknya juga, sesorang anak dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan tertentu lewat latihan-latihan yang intensif meski barangkali dia tak memiliki bakat khusus di bidang itu. Penelitian-penelitian belakangan menunjukkan bahwa seorang anak yang mengalami problem autisme, bahkan mengidap Down syndrome, dapat hidup secara sukses dan sejahtera berbekal keterampilan-keterampilan yang diperlukan sebagaimana lazimnya anak-anak yang tak memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus jika saja ia mendapatkan pendidikan dan pelatihan-pelatihan yang diperlukannya. Ketiga : Meski diidentifikasi sebagai telah memiliki bakat tertentu, ada baiknya anak dilatih untuk memiliki kemampuan lain, mengingat beberapa kemampuan diperlukan untuk mendukung kemampuannya memanfaatkan secara maksimum bakat atau kemampuan-utama yang dimilikinya, di samping kemampuan-kemampuan tersebut sedikti atau banyak juga diperlukan bagi pencapaian tujuan puncak semua pendidikan, yakni mengantar anak untuk meraih kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Termasuk di dalamnya : kemampuan (kecerdasan) kebahasaan (linguistik), musikal, kinestetik (olah-raga, termasuk tari), dan sebagainya.

Dikutip dari berbagai sumber :

Paradigma Kecerdasan Majemuk: Menggali Sifat, Bakat, Dan Kemampuan Anak Lewat Paradigma Multiple Intelligences. http://www.lazuardi.web.id/ Kamis, 2007 Desember 06 14 Agustus 2010 diakses 2010

Categories: Uncategorized

Pendidikan Karakter di Sekolah (Sebuah Renungan dan Harapan)

August 14, 2010 Leave a comment

Fahrizal, S.Pd. M.Pd. dan Aminu Irfanda Supanda, S.Pd. M.Pd.

Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat dinamis, selalu bergerak, sela lu terjadi perubahan dan pembaharuan. Sekolah seolah terus berpacu memunculkan dan mengejar keunggulannya masing-masing. Ditengah begitu semangatnya berbagai sekolah mengejar keunggulan teknologi, terbersit satu pertanyaan, ‘sebesar itu jugakah semangat kita untuk mengejar keunggulan karakter siswa-siswa kita?’

Pendidikan karakter tiba-tiba menjadi wacana hangat di dunia pendidikan lndonesia karena pendidikan merupakan proses yang paling bertanggungjawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang baik. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, dan tangguh; peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter masyarakat negatif dan lemah; itu mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah.

Merujuk pada piramida terbalik Maslow, kini saatnya dunia pendidikan mengubah paradigma. Bukan lagi mengarahkan siswa untuk sekadar memiliki keterampilan mengerjakan soal-soal eksakta (IQ), melainkan mendorong siswa untuk dapat mengaktualisasikan dirinya dan memiliki kebiasaan menemukan makna kehidupan.

Sekolah adalah tempat yang sangat strategis bahkan yang utama setelah keluarga untuk membentuk akhlak/karakter siswa. Bahkan seharusnya setiap sekolah menjadikan kualitas akhlak/ karakter sebagai salah satu Quality Assurance yang harus dimiliki oleh setiap lulusan sekolahnya. Tentunya kita semua berharap siswa-siswi yang dididik di sekolah kita menjadi hamba Allah yang beriman, sebagaimana pemerintah kita mencanangkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Pasal 3. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”

Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Sedangkan menurut Imam Ghazali karakter adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa melakukan pertimbangan fikiran. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Membentuk karakter tidak semudah memberi nasihat, tidak semudah memberi instruksi, tetapi memerlukan kesabaran, pembiasaan dan pengulangan sehingga proses pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan yang dialami peserta didik sebagai pengalaman pembentukan kepribadian melalui memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai-nilai ideal agama, nilai-nilai moral.

Penanaman pendidikan karakter di sekolah harus mengacu konsep dari Kementerian Pendidikan Nasional. Kemendiknas telah merancang ‘grand design’ pembelajaran pendidikan karakter. Acuan yang telah ditetapkan Kemendiknas terkait pendidikan karakter adalah pengelompokan konfigurasi karakter, yakni olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa-karsa. Olah hati bermuara pada pengelolaan spiritual dan emosional, olah pikir bermuara pada pengelolaan intelektual, olah raga bermuara pada pengelolaan fisik, sedangkan olah rasa bermuara pada pengelolaan kreativitas, keempat konfigurasi penanaman pendidikan karakter tersebut harus terkandung dalam rancangan kegiatan pembelajaran, dan tidak boleh melenceng dari acuan Kemendiknas itu.

Apabila ada rancangan kegiatan pembelajaran yang tidak sesuai dengan acuan itu, akan mengacaukan dan membelokkan cita-cita besar penanaman pendidikan karakter terhadap siswa.
Proses selanjutnya untuk pengembangan pendidikan karakter adalah kemampuannya untuk melewati tiga tahapan penting, yakni pengetahuan, pelaksanaan, dan kebiasaan. Tiga tahapan ini tidak boleh diabaikan, pengembangan pendidikan karakter dalam suatu sistem pendidikan tetap harus selalu memperhatikan keterkaitan antar komponen karakter setiap siswa, terutama terkait perilakunya.

Menerapkan pendidikan karakter di sekolah, menurut Ratna Megawangi, Founder Indonesia Heritage Foundation, ada tiga tahap pembentukan karakter :
MORAL KNOWING : Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. Mengapa harus berperilaku baik. Untuk apa berperilaku baik. Dan apa manfaat berperilaku baik
MORAL FEELING : Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berperilaku baik. Membentuk karakter adalah dengan cara menumbuhkannya.
MORAL ACTION : Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. Moral action ini merupakan outcome dari dua tahap sebelumnya dan harus dilakukan berulang-ulang agar menjadi moral behavior

Dengan tiga tahapan ini, proses pembentukan karakter akan jauh dari kesan dan praktik doktrinasi yang menekan, justru sebaliknya, siswa akan mencintai berbuat baik karena dorongan internal dari dalam dirinya sendiri.

Berikut adalah tips untuk sukses menerapkan pendidikan berbasis karakter di sekolah:
1. Memiliki nilai-nilai yang dianut dan disampaikan kepada seluruh stake holder sekolah melalui berbagai media : buku panduan untuk orang tua (dan siswa), news untuk orang tua, pelatihan.
2.  Staf pengajar dan administrasi termasuk tenaga kebersihan dan keamanan mendiskusikan nilai-nilai yang dianut, Nilai-nilai ini merupakan penjabaran dari nilai-nilai yang diyakini sekolah.
3.  Siswa dan guru mengembangkan nilai-nilai yang dianut di kelas masing-masing.
4. Memberikan dilema-dilema dalam mengajarkan suatu nilai, misalnya tentang kejujuran.
5.  Pembiasaan penerapan nilai di setiap kesempatan
6.  Mendiskusikan masalah yang terjadi apabila ada pelanggaran
7. Mendiskusikan masalah dengan orang tua apabila masalah dengan anak adalah masalah besar atau masalahnya tidak selesai

Dari semua komponen sekolah, yang paling berperan mensukseskan program pendidikan berbasis karakter di sekolah, adalah GURU. Tentunya diperlukan GURU BERKARAKTER untuk menghasilkan SISWA BERKARAKTER. Meski diperlukan kesabaran dan ketekunan, menghasilkan anak didik yang berakhlak dan berkarakter baik tentunya sangat membahagiakan, karena menjadi penyebab seseorang mendapatkan kebaikan itu lebih baik dari dunia dan seisinya!

Enam Pilar Pendidikan Karakter
Pendekatan pendidikan karakter tidak mengecualikan siapa pun. Itu sebabnya pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat menyetujui – nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau bias budaya. Gunakan point-point di bawah ini untuk membantu siswa memahami Enam Pilar.
1. Trustworthiness | Kepercayaan
Jujur • Jangan menipu, menjiplak atau mencuri • Jadilah handal – melakukan apa yang Anda katakan Anda akan melakukannya • Minta keberanian untuk melakukan hal yang benar • Bangun reputasi yang baik • Patuh – berdiri dengan keluarga, teman dan negara
2. Respect | Respect
Bersikap toleran terhadap perbedaan • Gunakan sopan santun, bukan bahasa yang buruk • Pertimbangkan perasaan orang lain • Jangan mengancam, memukul atau menyakiti orang lain • Damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan
3. Responsibility | Tanggungjawab
Selalu lakukan yang terbaik • Gunakan kontrol diri • Disiplin • Berpikirlah sebelum bertindak – mempertimbangkan konsekuensi • Bertanggung jawab atas pilihan Anda
4. Fairness | Keadilan
Bermain sesuai aturan • Ambil seperlunya dan berbagi • Berpikiran terbuka; mendengarkan orang lain • Jangan mengambil keuntungan dari orang lain • Jangan menyalahkan orang lain sembarangan
5. Caring | Peduli
Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan Anda peduli • Ungkapkan rasa syukur • Maafkan orang lain • Membantu orang yang membutuhkan
6. Citizenship | Kewarganegaraan
Apakah anda berbagi untuk membuat sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik Bekerja sama. Libatkan diri dalam masyarakat. Stay informed; Suara. Jadilah tetangga yang baik. Taatilah hukum dan aturan. Hormati otoritas. Melindungi lingkungan hidup di sekitar kita.

Dikutip dari berbagai sumber

Categories: Opini, Renungan
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.